Selasa, 09 Juni 2015

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA UMMAYAH DAN ABBASIYAH


1.   Apa sebab keruntuhan dinasti bani ummayah dan abbasiyah dari kacamata pendidikan islam ?
Pada masa dinasti Ummayah dan Abbasiyah  pendidikan islam berkembang sangat pesat. Tokoh-tokoh pendidik juga semakin maju dan berkembang. Ditunjang dengan sarana-prasarana yang semakin memadai pula. Namun dibalik kemajuan di bidang pendidikan islam ini, kedua dinasti tersebut mengalami keruntuhan pada bidang politik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keruntuhan kedua dinasti tersebut dilihat dari kacamata pendidikan.
Pada masa Dinasti Abbasiyah kemunduran dalam bidang sosial politik awalnya adalah rapuhnya penghayatan pendidikan islam, terutama yang terjadi di kalangan para penguasa di istana. Bagi mereka pendidikan islam hanya sekedar diamalkan dari segi formalitasnya saja. Akibatnya para pemerintah istana memarjinalisasikan agama dalam kehidupannya. Sehingga mengakibatkan munculnya penyakit rohani yang sangat menjijikkan seperti keserakahan dan tamak terhadap kekuasaan dan kehidupan dunia.
Faktor lain yang menjadikan dinasti ini runtuh manakala dilihat dari kacamata pendidikan islam adalah adanya krisis dalam bidang keagamaan. krisis ini berpangkal dari suatu pendirian sementara ulama jumud (konservatif) yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Untuk menghadapi berbagai permasalahan kehidupan umat islam cukup mengikuti pendapat para imam madzhab. Kondisi dunia islam yang dipenuhi oleh ulama-ulama yang berkualitas dibuatnya redup.
Akibatnya pula dari kekrisisan tersebut menyebabkan krisis ilmu pengetahuan dan pendidikan islam yang megakibatkan pada dampak kemunduran dinasti Abbasiyah.
Selanjutnya adalah adanya perang salib yang membawa kaum nasrani Spanyol yang sama sekali belum dapat menghargai betapa tingginya nilai ilmu pengetahuan. Pusat-pusat ilmu pengetahuan baik yang berupa perpustakaan maupun lembaga-lembaga pendidikan diporakporandakan dan dibakar. Akibatnya dunia pendidikan tidak mendapat ruang gerak yang memadai. Lembaga-lembaga pendidikan tingkat tinggi yang ada sama sekali kepada mahasiswanya untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Akhirnya akibat dari krisis dunia pendidikan, politik dan ekonomi  menyebabkan mundurnya dinasti Abbasiyah.
Sedangkan pada masa Dinasti Ummayah kemundurannya disebabkan karena tidak adanya kolaborasi antara umaro’ dan para ulama’. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kemunduran dinasti Ummayah adalah keadaan politik suatu peradaban.[1] Umar bin abdul Aziz, Kekuasaan Bani Ummayah dilanjutkan oleh yazid bin Abdul Malik(720-724). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketentraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau, karena dilatar belakangi oleh kepentingan etnis politis. Lalu dilanjutkan Hisyam bin abdul Malik (724-743), pada masa inilah muncul satu kekuatan baru. Setelah Hasyim meninggal, penerus kholifah selain lemah juga buruk moralnya. Akhirnya Pemerintahan Bani Ummayah digulingkan dan berakhir. Ada faktor intern dan ekstern yang menyebabkan keruntuhan ini. Faktor intern adalah kholifah memiliki kekuasaan yang absolut. Kholifah tidak mengenal kompromi, termasuk dengan  para ulama’ serta gaya hidup mewah para kholifah. Sedangkan faktor ekstern adalah tidak adanya ideologi pemersatu. Para Ulama’ merasa kecewa dengan pemerintahan dinasti Ummayah karena corak pemerintahannya yang sekuler. Begitu pula Ulama’ kecewa karena perhatiannya terhadap pendidikan islam kurang.
2.      Mengapa kebijakan bani ummayah terjadi diskriminasi dalam dunia pendidikan antara masyarakat yang berekonomi rendah dengan kaum bangsawan dan implikasinya terhadap kemajuan peradaban Ummayah?
Pada masa bani Ummayah terdapat dua jenis pendidikan yang berbeda sistem dan kurikulum, yaitu pendidikan khusus dan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan dan diperuntukkan bagi anak-anak khalifah dan anak-anak pembesarnya. Dan begitu pula sebaliknya. Kurikulum diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali pemerintah atau hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pemerintahan.[2] Adapun rencana pembelajaran pada pendidikan istana adalah menulis, membaca Al-Qur’an dan hadits, bahasa arab, syair-syair yang baik, sejarah bangsa arab, dan peperangannya, adab kesopanan dalam pergaulan, pelajaran ketrampilan menggunakan senjata, menunggang kuda dan kepemimpinan berperang. Tempat pendidikan istana ini dilakukan di dalam istana. Guru-gurunya ditunjuk oleh kholifah dengan mendapat jaminan hidup yang lebih baik.
Sedangkan pendidikan umum adalah pendidikan untuk rakyat biasa. Pendidikan ini merupakan lanjutan dari pendidikan yang telah dilaksanakan sejak zaman nabi. Pendidikan dilaksanakan di Kuttab dan masjid. Umumnya pelajaran diberikan guru kepada murid satu-persatu baik pemula atau menengah. Pada tingkat tinggi pelajaran diberikan oleh guru dengan model halaqoh. Yang bertanggung jawab pada pendidikan rakyat ini adalah para ulama’. Mereka bekerja atas dasar tanggung jawab agama, bukan atas dasar perintah dari kerajaan. Karena itu mereka tidak memperoleh jaminan hidup (gaji) dari pemerintah.[3]
Kebijakan tersebut mempunyai tujuan tertentu. Tujuan dari kedua pendidikan tersebut akan diperoleh kesimpulan bahwa pendidikan istana bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran yang ditunjang oleh keyakinan agama. Adanya perbedaan tujuan pendidikan menunjukkan adanya perbedaan pandangan hidup. Yang pertama yakni pendidikan istana menghasilkan pimpinan formal yang didukung oleh jabatan kenegaraan dengan wibawa kekuasaan. Sedangkan yang pendidikan rakyat bertujuan untuk menghasilkan pimpinan informal yang didukung oleh kharisma dan ilmu pengetahuan.

3.  Mengapa Harun Al-Rasyid itu menghadirkan kebijakan pendidikan filsafat bersanding dengan pendidikan fikih (untuk kepentingan politik atau pendidikan) ?
Filsafat pada masa itu berkembang bersamaan dengan ilmu keagamaan. Pada dasarnya tujuan penyandingan tersebut untuk mengembangkan bidang pendidikan. Bahwa saat itu karya-karya seperti buku dan penerjamahan semakin berkembang pesat. Untuk dapat menguji kebenaran sebuah buku diperlukan bantuan logika, epistimologi dan filsafat. Namun pengetahuan yang hanya dipompa oleh science dan filsafat bagaikan tanah yang kelihatan tandus. Pikiran manusia memerlukan siraman dengan cara menghadirkan pendidikan filsafat yang disandingkan dengan pendidikan fikih. Pada masa itu pula bidang fikih telah muncul berbagai madzhab, yaitu Maliki, Hanafi, Hambali dan Syafii. Diantara madzhab tersebut berbeda-beda dalam melakukan ijtihad ada yang berdasarkan atas dalil naqli dan aqli (rasional). Hadirnya filsafat yang bersamaan dengan fikih adalah untuk menyelaraskan antara keduanya, demi kemajuan bidang pendidikan. Pada kedua pendidikan tersebut sngat menjunjung tinggi nilai akal.
Referensi :
Badri Yatim. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Zuhairini. 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Aksara: Jakarta.
Ali Al-Jumbulati. 2004. Abdul Futuh, At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam Yokyakarta: Rineka Cipta.




[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV Pustaka Setia. 130.
[2] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Bumi Aksara: Jakarta, 2010). 92.
[3] Ali Al-Jumbulati, Abdul Futuh, At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam (Yokyakarta: Rineka Cipta, 2004). 29.

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN

1.   Mengapa peran penting perempuan dalam pendidikan islam tidak terungkap dalam sejarah islam dibandingkan dengan kaum pria ?
Peran wanita dalam bidang pendidikan pada dasarnya memperkuat kinerja proses pendidikan para laki-laki. Sangat menyedihkan bahwa peran ini begitu diabaikan dan diremehkan. Dengan sifatnya sebagai selimut spiritual dan psikologis manusia. Banyak sekali para kaum hawa yang berperan dalam pendidikan islam mulai dari zaman Nabi hingga seterusnya. Namun dari segi keterungkapannya ada diskriminasi antara peran wanita dan laki-laki. Bahwasanya peran penting perempuan dalam pendidikan islam tidak begitu teruak dibandingkan dengan kaum pria. Padahal sejarah membuktikan banyak para tokoh wanita yang sangat berperan terutama pada zaman nabi, termasuk para istri nabi sendiri. Ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya hal tersebut, terutama dari permasalahan gender yang menyatakan bahwa wanita itu lemah dan sumber kemafasidan. Dengan melihat kelemahan pada wanita maka menimbulkan gagasan-gagasan lain yang menyatakan bahwa adanya keterbatasan sumber daya serta kurang inisiatif pribadi pada pihak perempuan. Selain itu dalam proses pendidikan wanita belum mendapatkan wadah yang kuat dan terorganisasi layaknya laki-laki. Peran wanita lebih dicenderungkan sebagai pendidik anak-anaknya atau sekedar berperan sebagai ibu rumah tangga saja tidak lebih dari itu. Padahal jika dilihat pemahaman wanita itu lebih baik.
Disadari bahwa peran wanita tidak begitu terungkap dalam lembar sejarah dunia islam, khususnya pasca masa Rosululloh dan sahabat. Namun wanita sering didiskusikan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam bidang pendidikan. Akan tetapi perempuan hanyalah sebagai subyek pembahasan tidak terlibat dalam wacana pemikiran. Oleh karena itu wajar apabila di buku-buku atau kitab-kitab, indeksnya dipenuhi dengan nama laki-laki. Sedangkan nama perempuan hanya disebut apabila kajian itu membahas tentang sejarah perempuan. Sejarah ulama perempuan adalah sejarah yang gelap. Dalam budaya Romawi wanita tidak mendapatkan posisi terhormat. Sedangkan pandangan orang arab kuno terhadap wanita dapat kita cermati dari sebuah ayat Al-Qur’an an-Nahl: 58-59 : 

58.  Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.
59.  Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.

2.      Mengapa pendidikan pada zaman umar lebih maju dibandingkan dengan khulafaur Rosyidin dan indikator pendidikannya apa saja ?
Latar belakang kemajuan pendidikn islam  pada zaman umar adalah karena kecerdasan, bijaksana dan kekreatifan beliau sehingga sempat memperoleh julukan “Abu Faiz”.[1] Pada masa beliau telah ada pusat-pusat pembelajaran sehingga memudahkan umat islam dan para muallaf untuk menimba ilmu pengetahuan. Pada masa ini pula telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari berbagai daerah yang jauh dari Madinah. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan pada masa kholifah Umar bin Khottob lebih maju, sebab selama Umar memerintahkan negara berada dalam keadaan stabil dan aman. Hal ini disebabkan, disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pembelajaran juga telah dibentuk pusat-pusat pendidikan islam diberbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis dan pokok ilmu-ilmu lainnya. Pada masa Umar pendidikan sudah lebih meningkat dimana para guru sudah diangkat dan digaji yang diambil dari baitul Mall untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan. Usaha Umar lebih luas dibandingkan dengan usaha Abu bakar. Kholifah membentuk dewan-dewan pemerintahan serta mengatur tata tertib kehidupan masyarakat. Dengan demikian pemerintah Umar lebih maju diantara keempat zaman khulafaurrosidin.
Indikator pendidikan pada masa kholifah Umar adalah meliputi pengembangan kompetensi umat. Pada mulanya kompetensi yang diajarkan kepada umat hanya mencakup aspek kognitif saja. Seperti belajar membaca Al-Qur’an, tafsir, hadits dan fikih. Setelah masa beliau kompetensi berkembang menjadi kognitif dan psikomotorik. Bentuk pengembangan kompetensi psikomotor adalah umat diajari memanah, berenang, berkuda dll. Disamping itu beliau menegakkan keimanan, meruntuhkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah.

Referensi :
Arif setiawan. 2002. Islam di Masa Umar bin Khotob, Jakarta: Hijri Pustaka.




[1] Arif setiawan, Islam di Masa Umar bin Khotob, Jakarta: Hijri Pustaka, 2002. 2. 

Senin, 01 Juni 2015

Artikel Arab Seputar Bulan Sya'ban



تقاليد الجاويين في شعبان
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ. إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن. ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
الجاويّون لهم التقالد الإسلاميّ في تنفيذ الشريعة الإسلامية ودعوتها. أنّ هذا التقاليد هو تقاليد مميز  للجاويين الذي لايملكه المسلم الأخر. للجاويين أنّ تقاليد الاحتفال ( (Megengan لا يمكن فصله عن أجندتهم في شَعْبَانَ. هذا التقاليد لاستقبال شهر رمضان المبارك. هم يفعلونه منذ القديم ولكنّ العلماء يزيلون منه, لأنّه مختلف بالشريعة الإسلامية. واستمرار هذا التقاليد باقيا حتى الآن و أجرى قرب رمضان. وعبّره بحلقة و حفلة لدلالة دخول رمضان المبارك.
هناك رأي قويّ عن ظهور هذا التقاليد (megengan) أنه خلقه الأوليآء واسمه سونان كالي جاكا(Sunan Kalijaga) . وذكر أن مبتكرات الإسلامية من جاوي تحصيله.
الكلمة " megengan" لغة معناه أمسك, أي أمسك من الأهواء. ويقصد في هذا المجال أمر المسلمون لإمساك عن الهواء عند الصّيام. هذا دلالة على المسلمين أن يمسكوا أنفسهم عن الشهوات و المشروبات والمأكولات والاتصال الجنسيات. فكذلك " megengan" هو دلالة للمسلمين لاستعداد في استقبال رمضان المبارك.
أنّ شَعْبَانَ شهر كريم. من جاهد للعبادة فيه فله النجاح في رمضان المبارك. وفيه ليلة المباركة و ليلة القسمة و ليلة الإجابة و ليلة التكفير وليلة الشفاعة و البراءة. إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن.
وكان تقاليد أخر "Nyadran" الذي يقومه الجاويون المسلمون في شعبان. وعادة هم نظفوا المقابر وطبخوا الأطعام المعيّنة و أعطوه و اجمعوا حلاقة يسمى ب "Genduri" ودعوا للميّت. أنّ هذا التقاليد هو مميز  للجاويين الذي لايملكه المسلم الأخر.
وحكمة من هذا التقاليد أنّ الدعاء للميّت نافع. وقال الله تعالى في كتابه الكريم :
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ *
كما عرفنا أنّ تقاليد الجاويين متنوّع في شعبان فعلينا أن نحفظه لإتّحاد الأمّة. وفي هذا الشعبان قُلْ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ.
       

Pengantar Ilmu Arud dan Qowafi



A.    Pengertian Syiir
Syiir adalah suatu kalimat yang berirama dan bersajak yang mengungkapkan tentang suatu khayalan atau imajinasi yang indah dan terkadang melukiskan fenomena yang ada. Macam-macam syiir ada tiga macam :
·         Multazim (Tadisional)
Terikat dengan aturan wazan dan qofiyah (irama & sajak).
·         Mursal (Mutlak)
Terikat dengan satuan irama dan taf’ilah bukan wazan dan qofiyah.
·         Mantsur (bebas)
Tidak terikat oleh wazan dan fiil.

B.     Sejarah dan Perkembangan Syiir
Kebiasaan orang arab adalah menggubah syiir. Mereka beranggapan bahwa bersyiir adalah kebiasaan yang tradisional yang dipengaruhi oleh kehidupan serta bahasa mereka yang puitis. Awal kemunculan syiir tidak langsung berbentuk sempurna, namun perlahan-lahan terus berkembang menuju kesempurnaan. Syiir arab awalnya berbetuk ungkapan kata besar (mursal) menuju sajak dari sajak menuju syiir yang berbahar ramal, kemudian menuju syiir yang berbahar Razaj. Mulai fase inilah syiir arab dikatakan sempurna. Kemudian dalam tempo lama syiir tersebut berkembang menjadi susunan kasidah yang terikat dengan wazan dan kofyah.
Adapun wazan atau bahar yang pertama kali diucapkandalam syiir arab adalah bahar Ramal. Sebagaimana tampak pada kata-kata yang diucapkan oleh Mudlor bin Nizar ketika tangannya patah akibat jatuh dari untanya. Dalam keadaan sakit dia berkata :
وَايَدَاهْ – وَايَدَاهْ
Akhirnya ucapan tersebut ditirukan oleh kabilah Arab ketika naek unta, sambil berjalan dan mengucapkan : هَيْدَا -     هَيْدَا –
Syair terus berkembang yang awalnya hanya sebatas potongan-potongan sajak tradisional. Terutama saat bermuamalah antara kabilah satu dengan kabilah yang lain, antara negeri satu dengan negeri yang lain. Didukung dengan letak pasar yang sangat jauh antara kota satu dengan kota yang lain, seperti pasar Hajar di kota Bahrain. Perjalanan untuk menuju ke pasar-pasar tersebut ditempuh dengan mengendarai unta dan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal inilah yang mengundang mereka untuk berhayal sambil menyakikan lagu sebagai pelepas lelah.
Orang yang pertama kali meletakan benih syiir arab adalah, sekalipun bentuk bait dan irama yang masih sederhana adalah mudlor. Akan tetapi menurut tinjauan ilmu arudl bahwa bentuk bait tersebut sudah dinamakan bait manhuk, yakni bait yang hilang dua pertiganya dan tinggal sepertiganya. Demikian pula baharnya sudah dinamakan bahar ramal.
فاعلات – فاعلات
   Sejak muncul bahar inilah syiir arab mulai mengalami kesempurnaan, karena iramanya sudah teratur dan qofiyahnya atau sajaknya sudah rapi.
     Adapun orang yang pertama kali mengucapkan bahar Rajaz adalah ‘Ady bin Robiah yang terkenal dengan sebutan “Al-Muhalhil” yang hidup di masa pertengahan abad kedua sebelum Hijriyah (491-531M). Ia mendapat sebutan demikian karena halusnya perasaan yang ia tuangkan dalam syiirnya. Dan orang yang pertama kali menyempurnakan bentuk qosidah arab dari segi irama dan sajaknya adalah ‘Adi bin Robiah al-Muhalhil.

C.    Unsur-Unsur Syiir Arab
·         Kalimat/ bahasa syiir   
·         Irama/ Wazan syiir
·         Sajak/ Qofiyah syiir
·         Kesengejaan bersyiir
·         khayalan/ imajinasi
Wazan disebut juga bahr karena keberadaanya menyerupai lautan yang apabila diambil sesuatunya tidak habis-habis. Macam-macam bahr ada 16 diantaranya :
1.      Bahar Thowil
2.      Bahar Madid
3.      Bahar Basith
4.      Bahar Wafir
5.      Bahar kamil
6.      Bahar Hajaz
7.      Bahar Rajaz
8.      Bahar Ramal
9.      Bahar Syari’
10.  Bahar Munsarih
11.  Bahar Khofif
12.  Bahar Mudloro’
13.  Bahar Muqtadlob
14.  Bahar Mujtats
15.  Bahar Mutaqorob
16.  Bahar Mutadarak

D.    Tujuan syiir
Pada zaman Jahiliyah syiir berkisar persoalan tentang pujian, rayuan, ejekan, perumpamaan, semangat, bela sungkawa, dan bangga.
Pada zaman permulaan islam dan pemerintahan Bani Ummayah tujuan syiir adalah sebagai berikut :
·         Penyebaran akidah islam, hukum-hukumnya, petunjuk, anjuran mengikuti agama. Terutama dimasa Rosululloh SAW dan khulafaur Rosyidin,
·         Ajakan untuk berperang dan mensifati kejadian perang tersebut.
·         Al-Hija’ (ejekan) terutama untuk mempertahankan islam, maka para penyair mengejek orang-orang musyrik.
·         Al-Madh (pujian) terutama untuk mengokohkan dasar-dasar pemerintahan islam dan mengagungkan kedudukan para kholifah.
Pada zaman pemerintahan Abbasiyah tujuan syiir islam sudah mulai mengarah kepada hal yang bersifat keindahan, kesenian, lelucon dan bersenang-senang. Dengan demikian pada zaman ini mulai ada perpaduan antara syiir arab klasik dengan syiir arab modern. Sehingga makna yang terkandung di dalam syiir itu menjadi sangat halus dan khayalnyapun sangat indah seperti Abu Nawas.
Pada masa pemerintahan Turki (656-1220 H) rupanya syiir-syiir arab tidak berkembang dan tidak lagi mengalami kemajuan, karena banyak raja dan penguasa tidak punya dzauq syiir. Kemudian masa modern (semenjak pemerintahan Muhammad Ali Pasya) tujuan syiir adalah sama dengan masa sebelumnya yakni berkisar antara pujian, membangkitkan semangat, kebanggaan. Sejak awal abad ke-20 an berangsur-angsur penyair meninggalkan tema-tema tersebut untuk beralih kepada persoalan yang lebih aktual dan relevan seperti tema nasionalisme, humanisme, patriotisme dan lain-lain. Para penyair modern antara lain : Ahmad syauqi, Muhammad Hafidz, Kholil Mathron dan lain-lain.
E.     Macam-macam Syiir
macam-macam syiir antara lain :
·         Syiir multazim/ tradisional
Syiir yang terikat dengan aturan wazan atau qofyah.
·         Syiir mursal/ Mutlak
Syiir yang terikat dengan dengan irama tapi tidak terikat dengan wazan atau kofyah
·         Syiir Mantsur/ Bebas
Syiir yang tidak terikat dengan wazan dan kofyah yang ada tetapi masih terikat dengan satuan wazan khusus yang mirip dengan bentuk prosa.